1. Identitas buku dan pengarang
Problem Remaja Masa Kini
Judul buku : Tanah Gersang
Pengarang : Mochtar Lubis
Tebal buku : 228 halaman
Penerbit : Pustaka Jaya, 1982
2. Jenis buku
Buku yang berjudul “Tanah Gersang” merupakan salah satu roman karangan Mochtar Lubis, terdiri dari 3 buku, buku satu, buku dua, dan buku tiga.
3. Pokok persoalan/tema
Pengarang melukiskan kehidupan remaja kota yang tengah menghadapi kemelut zaman.
4. Ringkasan cerita
Tokoh utama cerita ini ialah Joni, seorang anak remaja, anak seorang ayah yang sibuk, tidak pernah memperhatikan keluarganya dan dalam buku ini diceritakan tentang perjalanan hidup Joni yang menderita, patut kita kasihani. Joni tumbuh secara tidak sewajarnya, tidak seperti kebanyakan anak-anak yang lain, Kesenangan yang aneh, yaitu ia merasa senang jika ia berkuasa atas orang lain dan ini sudah tumbuh sejak Ia kecil, terbukti pada kesenangan membunuh kucing, tersurat di halaman 21. “Joni rnemandangi dengan senang betapa kucing itu menggelepar di tanah dan darah mengalir bergelonjak dan luka di lehernya sehingga akhirnya kucing itu mengejut-ngejut mati, dan kemudian jadi kaku.” Dan kebiasaan ini terus berkembang, meningkat semasa hidupnya. Joni merasa senang sekali ketika ‘merampok. ia merasa berkuasa sekali atas nyawa orang yang dirampoknya. Bukan uang yang dicarinya, tetapi perasaan senang ketika berhasil berkuasa atas seseorang.
Kejanggalan-kejanggalan yang ada pada diri Joni ini tidak diketahui oleh keluarganya. Ayahnya hanya memberi uang, tanpa mau memperhatikan kedua anaknya, dan ayah Joni menyangka dengan melimpahkan uang kepada Joni, Maria, dan ibunya, maka perbuatannya ini dapat menggantikan adanya seorang ayah di rurnah. Sebagai akibatnya, Joni tidak menaruh rasa hormat kepada ayahnya. Ia merasa asing dari keluarganya (hal. 30). “Tidak ada hubungan jiwa antara dia dan ibunya, lebih-lebih melepaskan diri Joni…,”
Kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh Joni, Yusuf, dan Sukandar diceritakan secara panjang lebar. Nilai-nilai dasar atau norma-norma sosial sudah berubah, menjadi latar belakang cerita ini. Seorang ayah yang sepatutnya memperhatikan keluarga, tidak beristri lagi, mencintai anak-anaknya, tidak ada dalam cerita ini. Juga diceritakan, seorang istri yang ditinggal berbulan-bulan lamanya oleh suaminya, merasa tidak melanggar norma-norma susila ketika ia menerima pria lain di kamarnya. Keponakannya, Yusuf pun tidak menghina dan menganggap wajar. Bahkan teman Yusuf. Joni mengadakan hubungan suami-istri dengan bibi Yusuf. Siti Rafiah. Ini semua menunjukkan nilai-nilai dasar sudah berubah.
Cerita diakhiri dengan bunuh dirinya Joni. Ia tidak berani mengakui siapa dirinya sebenarnya. Maksudnya, mengakui perbuatan-perbuatan yang tidak baik kepada istrinya, Dewi dan orang lain.
Setelah menceritakan latar belakang atau riwayat hidup tokoh-tokohnya, pengarang kembali menggunakan alur maju. Ia menceritakan kelanjutan rencana sampai pada proses perampokan, pertemuan Joni dengan Lisa, seorang gadis yang menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya. Ia pandai sekali merayu pria-pria kaya untuk mencapai keinginannya. Pengarang masih menggunakan alur maju ketika menceritakan pertemuan Joni dengan Dewi, adik Lisa. Joni betul-betul jatuh cinta terhadapnya, yang terbukti pada halaman 192. “Cintanya dan cinta Dewi seakan-akan memberikan kepadanya suatu tenaga yang tidak habis-habis sumbernya.”
5. Kelebihan dan kekurangan buku/novel
Cerita yang cukup menarik ini banyak berisikan himbauan yang terselubung. Banyak sekali nasihat yang bisa kita ambil, terutama bagi remaja dan orang tua. Dalam cerita ini, tokoh ayah Joni telah memberi petunjuk kepada kita bahwa uang tidak bisa menggantikan cinta seorang ayah, pengaruh seorang ayah, perhatian, disiplin yang diberikan ayah, Bagi remaja, pengarang menghimbau agar bisa menjaga diri, untuk tidak melakukan hubungan yang terlarang sebelum menikah.
Roman ini banyak menampilkan karakter tokoh yang berbeda-beda, tetapi menarik: tokoh Lisa, seorang gadis yang mata duitan, Dewi yang lugu dan: lembut serta polos, Joni, seorang anak orang kaya, tetapi mau bergaul dengan golongan rendah seperti Yusuf dan Sukandar.
Penyajian cerita ini baik dan ceritanya pun mudah ditangkap. Pengarang menyajikan masalah yang aktual, tidak membosankan dan jelas. Pengarang menguraikan secara panjang-lebar karakter tokoh-tokoh. Akan tetapi, terdapat satu kekurangan, yaitu pengarang sering mengulang kisah yang porno sehingga membosankan. Bahasa yang digunakan pengarang adalah bahasa Indonesia percakapan, tetapi lebih didominasi bahasa Jakarta yang agak kasar. “Busset!” sumpah Yusuf (hal,84).
6. Kesimpulan
Menurut penulis, cerita ini cukup menarik untuk dibaca, karena menceritakan remaja dan segala persoalan yang dihadapi, nilai-nilai susila yang sudah berubah, patut menjadi bahan pemikiran kita, untuk merefleksikan diri kita. Apakah hidup yang kita jalani sudah baik dan cukup berarti? (Suroto. 1989: 182-184).
Komentar Terakhir