Haruskah para mentri dengan mobil mewah ??
Opini bermunculan terkait pemberian jatah mobil dinas Toyota Crown Royal Saloon bagi para menteri. Sebagian besar pendapat itu bernada miring. Salah satunya meluncur dari bibir Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif.
Ketika ditemui di Jakarta, Selasa (29/12), Maarif menyatakan, seharusnya pejabat berani berkorban untuk tidak menggunakan mobil mewah. Jika mereka menerima kendaraan itu, sama saja tidak peka terhadap rakyat. Apalagi sebagian besar masyarakat sedang dalam keprihatinan akibat krisis. (google)
Anggota masyarakat pun menyampaikan pendapat serupa. Tak masalah menteri mendapat fasilitas untuk menunjang profesi mereka. Namun kalau berlebihan, akan melukai hati rakyat.
Bahkan masih ada beberapa mentri yang merasa kurang puas dengan fasilitas yang diberikan Negara. Seperti pernyataan dibawah ini :
Ketika disinggung soal pemakaian mobil mewah itu, Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta menjawab dengan tersipu. Meski berterima kasih, Hatta menilai interior mobil kali ini lebih sempit.
Apakah sudah benar keputusan yang dibuat pemerintah? Sebagai perbandingan, di Malaysia yang kondisi perekonomiannya lebih baik dari Indonesia, memberikan mobil dinas Mercedes Benz tipe 280 kepada para menterinya. Harga mobil tersebut berkisar Rp 750 juta, atau lebih murah dari kendaraan menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid II senilai Rp 1,3 miliar.
Tentunya ini sangat berlebihan, karena mengingat Negara kita yang masih jauh dari kemajuan. Seharusnya pemerintah memberikan mobil yang sewajarnya saja, agar tidak timbul anggapan-anggapan yang kurang enak dari masyarakat. Toh para mentri adalah orang-orang yang ekonominya menengah ke atas, tentunya mereka dapat membeli kendaraan mereka dengan uang mereka sendiri
Komentar Terakhir